I. S. Santoso
Pagi ini saya datang ke CD Park (sebutan untuk taman kampus) daripada bengong di kos. Akhirnya bikin dua puisi iseng ini deh...

Puisi pertama ditulis saat melihat daun-daun kering berguguran.

Birama 1/1

Satu per satu hitungan jam
Aku menggeliat dari tidurku
Dari dekapan ibu aku berontak
Menuju fase kehidupan baruku

Satu per satu hitungan tahun
Tubuhku kaku
Tangan kekar, kaki tegar, wajah sangar
Aku masih mencari hidup

Satu per satu
Rambutku berjatuhan
Tubuh renta, kaki lunglai
Tangan tak lagi kekar, kering dan rapuh
Apakah ini hidup?

Puisi kedua terinspirasi setelah membaca sebuah artikel dari blog teman.

Asa

Tubuh bugar
Wajah sumringah
Air mata bahagia
Pergi dari rumah membawa asa

Tubuh, tulang berbalut kulit
Wajah, pucat dan sendu
Tak ada air mata
Kembali ke rumah tinggal nama
I. S. Santoso
Akhirnya bisa lolos ke Stage 4. Riddle di stage ini gampang-gampang susah sih.
OK, ini petunjuk dari saya untuk Stage 4....

Level -40
Bahasa gaulkan soalnya. Hati-hati harus tepat. Trus cari judulnya dengan bantuan Om. Berhubungan dengan buku/film/suatu pertunjukan.

Level -41
Cek daleman. Lihat judul dan cari tahu apa maksudnya. Gaulkan salah satu kata di soal, tapi harus cari yang tepat. Minta bantuan Om.

Level -42
Kerjakan saja yang diperintahkan. Persamaan matematika sederhana kok.

Level -43
Nah, ini ada beberapa lapis.
Lapis 1: WYSIWYG (what you see is what you get). Gambar apa itu?
Lapis 2: Cek daleman. Ada dua kata yang aneh? Pada kata pertama gaulkan angka-angka yang mengapitnya. Selanjutnya, ganti marga dengan kata kedua. Download filenya.
Lapis 3: Buka file yang telah didownload dengan program pengolah kata sederhana. Pertama cek "judul"nya, ngertiin maksudnya. Trus ada kalimat-kalimat aneh juga kan? Konversikan kalimat tersebut dengan menggunakan "judul", bantuan Om juga diperlukan. Setelah ketemu hasil konversinya cari artikel di Tante. Cari sebuah kata ilmiah.
Superclue: Semua jawaban pakai bahasa gaul. Untuk lapis ketiga, merupakan salah satu kelas dalam dunia binatang.

Level -44
WYSIWYG again, tapi dalam bahasa ibu.

Level -45
Berlapis lagi nih.
Lapis 1: Cek daleman, tahu maksudnya kan?
Lapis 2: Cek daleman lagi, copy-paste dan tanya ke Om. Siapa yang ngomong seperti itu.

Level -46
Kalau ini ada dua langkah.
Langkah 1: Cek daleman dulu. Ada sesuatu yang aneh yang mengingatkan pada sebuah deret?
Langkah 2: Cari tahu yang tertulis di judul. Berhubungan dengan apa?
Jawabannya adalah gabungan hasil pada langkah 1 dan langkah 2.

Level -47
Lapis 1: Tulis saja, jawaban sudah tersedia di depan mata.
Lapis 2: Ups, ternyata "Maaf, halaman yang Anda cari tidak ditemukan". Jangan ragu, coba cek daleman.

Level -48
Kalau ini harus bener2 teliti. Gunakan si itkus untuk menjelajahi gambar.

Level -49
Cek daleman. Habis itu tanya ke Tante tentang daleman itu. Trus hubungin antara daleman sama yang didapet di Tante. Hal pertama yang terlintas di pikiran setelah membandingkan daleman sama hasil di Tante.

Level -50
Gak perlu perhatiin soalnya, gak ngaruh. Cek daleman aja. Di situ ada angka sama tulisan yang aneh kan? Nah, perlakukan si tulisan itu seperti angka.

Level -51
Translate jurusnya ke bahasa gaul pertama. Mending translate sendiri daripada minta bantuan Om. Terus minta bantuan Tante buat cari tahu itu jurus apa (ada 24 jurus yang ditunjukin di Tante). Nah, cari jurus "selesai"nya. Jawabnya pake bahasa gaul kedua ya.
Superclue: Bahasa gaul kedua biasa digunakan si "sumpit".

Level -52
Tanya Om tentang Kumon 5A. Perlakukan gambar dengan cara Kumon 5A. Jawabannya nggak membentuk sebuah kata yang punya arti, jadi disarankan untuk bruteforce.
Superclue: Bahasa betawi dari salah satu rasa susu/permen.

SELAMAT!!
Anda lolos dari Stage 4 dan selamat menuju ke Stage 5.
Kata kunci: 0 komentar | edit post
I. S. Santoso
Selamat! Congrats, congrats bagi yang sudah masuk ke level ini!
Jadi akan saya lanjutkan clue-clue untuk Stage 3 ....

Level -27
Yang hobi maen Notpron juga pasti bingung, ini Mati Beku atau Notpron. Tapi lanjut aja kayak maen Notpron. Bagi yang belum tahu, saya beri tahu level ini ada 3 lapis (bukan langkah lho).
Lapis 1: Tinggal ikuti perintahnya. Gerakkan kursor ke tempat yang dituju
Lapis 2: Kalo ke lapis ini ada yg berubah, berarti buat ke lapis selanjutnya juga harus diubah
Lapis 3: Sebenarnya ini yang penting. Ingat "ini bukan not pron". Masih nggak ngerti? Jadikan bahasa gaul aja. Trus ingat persamaan matematika [negatif] x [negatif] = [positif]. Dan jangan kembali dulu ke jalan Mati Beku.

Level -28
Tanya ke Om tapi jangan satu-satu. Di sini kembalilah ke jalan Mati Beku.

Level -29
Cari dulu bukunya. Jangan lupa cek daleman. Dapet deh.
Superclue: Ini seri yang berbeda dari novelnya Bu Meyer.

Level -30
Ada yang berbeda dari level-level sebelumnya. Kalau udah tahu, tanyakan ke Om.

Level -31
Huruf yang cetak tebal coba baca dengan cepat. Trus minta bantuan Om atau Tante. Cari nama kota yang berhubungan dengan itu.
Superclue: Cari yang memiliki "penghubung"

Level -32
Nah, di level ini ada beberapa langkah yang perlu dilakukan:
Langkah 1: Denger suara aneh? Download dulu deh (File - Save Page As).
Langkah 2: Kalau udah didownload, balikkan pake program pengolah suara paling sederhana (ada di setiap kompi kok).
Langkah 3: Tahu magic numbernya kan? Lanjut minta bantuan Om. Jangan lupa gabungin sama daleman level sebelumnya. Nanti ketemu simbol matematika dan ditunjukin jalan ke Tante. Hati-hati juga simbolnya ada dua (saya sampai kejebak berhari-hari gara-gara salah simbol). Langkah 4: Kalau sudah ketemu simbolnya, cari penemunya.
Superclue: Buat simbolnya, cari yang benar2 berbau matematika, jangan yang seperti huruf/lambang.

Level -33
Cek daleman. Ada yang salah, tulis yang benar.

Level -34
Tahu bilangan kuadrat yang kalau dijumlahkan hasilnya 34? Balik ke level sebelum-sebelumnya yang sesuai sama salah satu bilangan tersebut. Cek dalemannya. Tanya ke Tante deh, nanti jawabannya adalah sebuah operasi yang dilakukan pas Perang Dunia II.

Level -35
Bahasa gaulkan kata "negara rendah". Cari nama persekutuannya di Om atau Tante.
Superclue: Singkatan dari nama 3 negara.

Level -36
Kembalilah ke awal Stage 3 ini. Ada sesuatu yang mirip sama gambar di soal kan? Cari tahu yang dilingkari. Gunakan situs "Tabung Kamu".

Level -37
Ada yang harus didonlot lagi tuh. Cari siapa komposernya. Gabungkan jawabannya sama nama agen mata-mata/detektif paling terkenal.

Level -38
Bawa pulang gambar. Cek dalemannya.

Level -39
Langkah 1: Cek daleman dan tanya Om.
Langkah 2: Cocokkan soal dengan tanggal episode tersebut.
Langkah 3: Temukan siapa "prime suspect"nya. Pake nama lengkap ya.

SELAMAT!!! Lanjut ke Stage 4...
Kata kunci: 0 komentar | edit post
I. S. Santoso
Sebenarnya cerita ini sudah lama ingin saya tulis. Seminggu yg lalu, tepatnya hari Selasa, 1 September 2009 saya dalam perjalanan pulang ke kampung halaman tercinta, Madiun. Karena saya termasuk salah seorang pengguna kereta api sejati (tsah..) saya memutuskan pulkam dengan naik kereta. Dan entah ini salah satu keanehan saya atau emang dasarnya saya ini "wong ndeso" saya lebih suka (meskipun agak nggak nyaman) naik kereta tipe ekonomi ketimbang bisnis/eksekutif. Rasanya lebih seru aja gitu. Dan cerita ini merupakan salah satu keunggulan atau keunikan naik kereta ekonomi. Cerita di besi tua ini pun dimulai....

Panas tidak terlalu menyengat saat saya sampai di stasiun Tanah Abang. Jam 2 siang kurang. Masih cukup banyak waktu untuk menunggu kereta keberangkatan jam 15.30. Saya berjalan ke loket dan membeli tiket KA Brantas tujuan Madiun, yah.. Rp 37.000 cukup menghemat ongkos pulang lah (ini lg keunggulan kelas ekonomi). Setelah mendapat tiket saya duduk di lobi stasiun dan memandang sekeliling. Tak banyak juga yang antre tiket, tak seperti biasanya. Waktu berlalu, terdengar pengumuman "Bagi penumpang KA Brantas dapat menunggu di peron 3. Kereta akan segera datang." Saya segera turun ke peron 3.

Di dalam kereta, gerbong 8.
Salah satu keunikan bagi pengguna kereta ekonomi adalah kadang2 kita tidak kenal dengan orang yang duduk di depan, sebelah kiri, atau sebelah kanan kita. Dan itulah yg terjadi pada saya. Saya dapat tiket nomor 13C, yang artinya saya akan mendapat tempat duduk 3-3 berhadapan. Pasti 'sumpek' sekali, hufh... Pas saya menemukan tempat duduk saya, sudah ada 3 orang di sana: seorang bapak-bapak, seorang mbak-mbak, dan seorang mas-mas. Hehehe.. nggak enak ya nyebutinnya. Dan selang beberapa lama 5 tempat duduk di sekitar saya sudah terisi. Pembicaraan unik dengan orang-orang yang belum dikenal mulai terjadi. Kami berenam adalah:
  1. Seorang perempuan berjilbab. Ternyata adalah seorang ibu muda berumur 27 tahun asal Solo yang akan pergi ke Kediri, tempat suaminya. Ibu ini punya satu orang anak dan bekerja sebagai baby sitter di Jakarta.
  2. Seorang pemuda. Kira2 seumuran dengan saya, tapi tampaknya lebih tua. Tinggal di Walikukun, Ngawi. Dan di Jakarta bekerja sebagai karyawan di pabrik tahu. Tak banyak yang saya tahu karena dia nggak banyak omong (sama seperti saya).
  3. Seorang bapak paruh baya. Usia 48 tahun, tapi wajahnya kelihatan lebih tua. Tujuan bapak ini Solo. Dan Bapak ini bercerita pada kami kalau dia punya dua istri (satu di Boyolali, satu di Bali). Dia juga bercerita kalau istri pertamanya baru tahu dia menikah lagi 2 tahun terkahir ini.
  4. Seorang perempuan. Ternyata juga seorang ibu dengan anak tertua berusia 17 tahun, padahal ibu ini berusia 32 tahun. Dan dia bercerita pada kami bahwa dia dulu dijodohkan orang tuanya pada usia 14 tahun. Dan sekarang dia menikah untuk kedua kalinya. Orangnya paling rame di antara kami berenam. Banyak kisah gelap di balik kehidupan mbak ini.
  5. Seorang bapak tua lagi. Asal Madura. Kebalikan dengan bapak nomor 3 tadi, walaupun sudah berusia 56 tahun tapi wajahnya kelihatan lebih muda. Kalau bapak yang satu ini punya prinsip: satu istri saja sampai mati, yang langsung di"setuju"i oleh mbak nomor 4.
  6. Saya sendiri. Pemuda berusia 20 tahun.
Bertemu dengan orang2 ini membuat saya tersenyum. Belum begitu kenal, tapi rasanya sudah berteman sejak lama. Khas orang Indonesia. Oh ya, salah satu keanehan lagi adalah kami nggak tahu siapa nama masing2 dari kami.
Hmm... aneh, unik, tapi asik!!

Yah, begitulah. Sekedar berbagi cerita bagi teman2 yang pernah mengalami kejadian seperti itu. Bagi mbak-mbak, bapak-bapak, dan mas di KA Brantas gerbong 8, nomor tiket 12 A, 12 B, 12 C, 13 A, 13 B, dan 13 C... kalau seandainya bertemu lagi masih ingat nggak ya?
I. S. Santoso
Aneh, setelah denger perkataan temen jadi pengen nulis lagi, pengen berkata-kata lewat tulisan lagi, pengen bikin novel, pengen mewujudkan impian dari kecil..

Sebuah Kisah

Hanya sepotong puisi
Mungkin juga hanya basa-basi
Tapi bukan juga tanpa isi
Ini hanyalah sepotong puisi

Hanya selembar catatan
Yang ditulis oleh tangan
Seorang amatiran
Yang tak tahu apa-apa
Tapi ingin menjadi sastrawan

Hanya sepatah-dua patah kata
Yang tak terucap
Dari hati seorang pria
Yang tak mampu bercerita
Tentang perasaan untuk sang Hawa
Kata kunci: 0 komentar | edit post